SutardjiCalzoum Bachri yang akrab dipanggil Bung Tardji, lahir di Rengat, Indragiri Hulu, 24 Juni 1941. Beliau adalah pujangga indonesia yang diberi gelar "Presiden penyair Indonesia". Bung Tardji dikenal sebagai sastrawan pelopor puisi kontemporer. Berikut beberapa puisi terkenal karya Sutardji Calzoum Bachri: ANA BUNGA SutardjiCalzoum Bachri, "Kredo Puisi". Kekhasannya tersebut mengundang reaksi dari berbagai kalangan. Sutardji menegaskan sikapnya dalam "Kredo Puisi" yang ia tulis pada 30 Maret 1973. Ia ingin membebaskan "kata dari makna.". Kata dibebaskan dari bebannya sebagai pembawa pengertian. Sutardjimenggunakan kata 'air mata' dengan makna sebenarnya. Seakan menggambarkan betapa perihnya masyarakat membangun sebuah dunia (khususnya Kepulauan Riau), dengan banyak airmata yang menetes ke tanah, menyimpulkan bahwa sudah banyak airmata yang tertetes ditanah, dan seolah-olah digambarkan bahwa tanah tersusun oleh airmata yang merupakan KARYASUTARDJI CALZOUM BACHRI. Institut Seni Indonesia Surakarta abizar54345@ The work "Eternal" is a musical composition performance that adopts the meaning and significance of Sutardji Calzoum Bachri's symbolic poem "Q" as the base idea. The results of an in-depth observation of Sutardji Calzoum Bachri's SuratCarok 99 malam kuasah celurit melebihi sorot mata kekasih di tengah peradaban yang dijejalkan sebagai simbol lenturnya lidah kita telah berjanji akan berjumpa di tengah purnama. bias sinar Tanahairmata tanah tumpah darahku. Mata air airmata kami. Air mata tanah air kami. Di sinilah kami berdiri. Menyanyikan airmata kami. Dibalik gembur subur tanahmu. Kami simpan perih kami. Dibalik etalase megah gedung-gedungmu. Kami coba sembunyikan derita kami. Kami coba simpan nestapa. Kami coba kuburkan duka lara. Tapi perih tak bisa kRRFP8. Walau Walau penyair besar takkan sampai sebatas allah dulu pernah kuminta tuhan dalam diri sekarang tak kalau mati mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat jiwa membumbung dalam baris sajak tujuh puncak membilang-bilang nyeri hari mengucap-ucap di butir pasir kutulis rindu rindu walau huruf habislah sudah alif bataku belum sebatas allah Jembatan Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung airmata bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi dalam teduh pekewuh dalam isyarat dan kisah tanpa makna. Maka aku pun pergi menatap pada wajah berjuta. Wajah orang jalanan yang berdiri satu kaki dalam penuh sesak bis kota. Wajah orang tergusur. Wajah yang ditilang malang. Wajah legam para pemulung yang memungut remah-remah pembangunan. Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar penonton etalase indah di berbagai plaza. Wajah yang diam-diam menjerit mengucap tanah air kita satu bangsa kita satu bahasa kita satu bendera kita satu! Tapi wahai saudara satu bendera kenapa sementara jalan-jalan mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang di antara kita? Di lembah-lembah kusam pada puncak tilang kersang dan otot linu mengerang mereka pancangkan koyak-moyak bendera hati dipijak ketidakpedulian pada saudara. Gerimis tak ammpu mengucapkan kibarnya. Lalu tanpa tangis mereka menyanyi padamu negeri airmata kami. Kucing Ngiau! Kucing dalam darah dia menderas lewat dia mengalir ngilu ngiau dia bergegas lewat dalam aortaku dalam rimba darahku dia besar dia bukan harimau bukan singa bukan hiena bukan leopar dia macam kucing bukan kucing tapi kucing ngiau dia lapar dia merambah rimba afrikaku dengan cakarnya dengan amuknya dia meraung dia mengerang jangan beri daging dia tak mau daging Jesus jangan beri roti dia tak mau roti ngiau kucing meronta dalam darahku meraung merambah barah darahku dia lapar 0 alangkah lapar ngiau berapa juta hari dia tak makan berapa ribu waktu dia tak kenyang berapa juta lapar lapar kucingku berapa abad dia mencari mencakar menunggu tuhan mencipta kucingku tanpa mauku dan sekarang dia meraung mencariMu dia lapar jangan beri daging jangan beri nasi tuhan menciptanya tanpa setahuku dan kini dia minta tuhan sejemput saja untuk tenang sehari untuk kenyang sewaktu untuk tenang.. Memahami Puisi, 1995 Daging daging coba bilang bagaimana arwah masuk badan bagaimana tuhan dalam denyutmu jangan diam nanti aku marah kalau kulahap kau aku enak sekejap aku sedih kau jadi taik daging kau kawan di bumi di tanah di resah di babi babi daging ging ging kugali gali kau buat kubur dari hari ke hari La Noche De Las Palabras El Diario de Modellin Di cafe jalanan Noventa Y Sieta, Medellin, Columbia kami mengepung bulan dan mereka yang mendengarkan puisi kami mencoba menaklukkan bulan dengan cara mereka berkomplot dengan anggur daun cerbeza bersekongkol dengan gadisgadis memancing bulan dengan keluasan dada Musim panas Menjulang di Medelin menampilkan sutera di keharibaan malam cuaca ratusan para lilin menyandar di pundak malam mengucap menyebutnyebut cahaya sambil mencoba memahami takdir di wajah-wajah usia kami para penyair meneruskan zikir kami -palabras palabras palabras palabras – –kata kata kata kata – semakin kental mengucap cahaya pun memadat sampai kami bisa buat sesuka kami atas padat cahaya lantas bulan kesurupan kesadaran kami meninggi bulan turun pada kami dan kami mengatasi bulan sampailah kami pada kerajaan kata-kata jika kami membilang ayah ia juga ayah kata-kata jika kami menyebut hari juga harinya kata-kata jika kami mengucap diri pastilah juga diri kata kata Di cafe jalanan Medellin purnama jatuh kata-kata menjadi kami kami menjadi kata kata Tapi aku bawakan bunga padamu tapi kau bilang masih aku bawakan resahku padamu tapi kau bilang hanya aku bawakan darahku padamu tapi kau bilang cuma aku bawakan mimpiku padamu tapi kau bilang meski aku bawakan dukaku padamu tapi kau bilang tapi aku bawakan mayatku padamu tapi kau bilang hampir aku bawakan arwahku padamu tapi kau bilang kalau tanpa apa aku datang padamu wah ! β€”β€”β€”β€”β€” Sutardji Calzoum Bachri adalah pujangga Indonesia terkemuka, ia dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1966 – 1970-an. Sutardji Calzoum Bachri lahir di Rengat, Indragiri Hulu, pada 24 Juni 1941. Ia adalah anak kelima dari sepuluh orang bersaudara. Pada tahun 1982, ia menikah dengan seorang gadis pilihannya bernama Maryam Linda. Sutardji Calzoum Bachri memulai pendidikan dasarnya di SD, SMP, SMA dan kemudian melanjutkan ke Fakultas Sosial Politik Sospol, Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran Bandung, namun tidak selesai. Selain menempuh jalur pendidikan formal, Sutardji juga telah mengikuti berbagai program pendidikan non-formal seperti peserta Poetry Reading International di Rotterdam tahun 1974 dan mengikuti International Writing Program di IOWA City Amerika Serikat selama satu tahun tahun 1975. Ia juga pernah mengikuti penataran P4 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta tahun 1984, dan lulus sebagai peringkat pertama dalam 10 terbaik. Baca Puisi-puisi Karya Rudi Santoso *** Laman Puisi terbit setiap hari Minggu. Secara bergantian menaikkan puisi terjemahan, puisi kontemporer nusantara, puisi klasik, dan kembali ke puisi kontemporer dunia Melayu. Silakan mengirim puisi pribadi, serta puisi terjemahan dan klasik dengan menuliskan sumbernya ke email [email protected] [redaksi] Sutardji Calzoum Bachri TANAH AIRMATA Tanah airmata tanah tumpah dukaku mata air airmata kami airmata tanah air kami di sinilah kami berdiri menyanyikan airmata kami di balik gembur subur tanahmu kami simpan perih kami di balik etalase megah gedung-gedungmu kami coba sembunyikan derita kami kami coba simpan nestapa kami coba kuburkan duka lara tapi perih tak bisa sembunyi ia merebak kemana-mana bumi memang tak sebatas pandang dan udara luas menunggu namun kalian takkan bisa menyingkir ke manapun melangkah kalian pijak airmata kami ke manapun terbang kalian kan hinggap di air mata kami ke manapun berlayar kalian arungi airmata kami kalian sudah terkepung takkan bisa mengelak takkan bisa ke mana pergi menyerahlah pada kedalaman air mata kami

puisi tanah airmata karya sutardji calzoum bachri